Senin, 25 Oktober 2010
karya : Stephenie Meyer
Twilight menceritakan kisah percintaan antara seorang gais berumur 18 tahun, Isabella Swan, dengan seorang vampir bernama Edward Cullen.
Bermula dengan kepindahan Isabella Swan ke kota Forks, kota dengan curah hujan tertinggi di dunia, untuk tinggal bersama ayahnya. Ini dikarenakan ibunya yang sudah bercerai dengan ayahnya, menikah lagi. Bella (panggilan Isabella Swan) tidak ingin menganggu pernikahan ibunya itu, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama dengan ayah biologisnya.
Forks, yang jarang sekali terkena sinar matahari karena curah hujannya yang tinggi, ternyata merupakan tempat tinggal keluarga vampir baik, yang tidak menyerang manusia. Mereka adalah keluarga dr. Cullen. Bella, yang menetap dan akhirnya bersekolah di Forks, mendapatkan banyak teman, dan salah satunya adalah teman sekelasnya, yang berasal dari keluarga Cullen, Edward. Mereka awalnya berhubungan kurang baik, karena Edward memang tidak terlalu suka dekat dengan manusia. Begitu juga dengan Bella, yang merupakan orang kota yang dari pindah dari Pheonix ke desa Forks, merasa berbeda dengan teman-temannya.
Namun, pada akhirnya mereka menjadi sangat dekat dan selalu bersama di sekolah. Edward mengantarkan Bella, makan bersama di kantin, dan lainnya. Hingga pada suatu saat, ketika musim salju tiba, Bella sedang berada di area parkir sekolah, ketika sebuah mobil yang sudah hilang kendali mengarah kepadanya. Bella panik dan menutup mata ketika mobil tersebut akan menabraknya. Namun, ketika dia membuka mata, ternyata tidak terjadi apapun, dan justru dia melihat Edward sedang menahan mobil itu agar tidak menabrak Bella, dan dengan keadaan mobil yang sudah "penyok" karena ditahan oleh tangan Edward. Disini, Bella menyadari ada kejanggalan. Tapi Edward menjelaskan bahwa Bella tidak sadar, dan dia mengatakan bahwa sebenarnya Edward tidak berada disana ketika Bella akan tertabrak. Edward malah meminta agar Bella menjauh darinya. Tapi Bella yakin, bahwa Edward menyembunyikan sesuatu, dan dia berusaha untuk mendapatkannya.
Hingga pada akhirnya, Edward pun memberitahukan kepada Bella bahwa dia adalah seorang vampir. Namun, Bella justru semakin dekat dengan Edward dan mereka pun pacaran.
Suatu ketika, Bella sedang bermain kasti dengan keluarga Cullen, ketika datang 3 vampir jahat pemangsa manusia. Disini Bella diminta Edward untuk menyembunyikan identitasnya agar mereka tidak tahu kalau Bella adalah manusia. Karena, menurut Edward, Bella merupakan santapan yang sangat diinginkan para vampir, karena bau darah Bella sangat lezat. Tetapi, 3 vampir itu pun akhirnya tahu, dan mengejar Bella.
Sumber : http://id.shvoong.com/books/novel-novella/1916432-novel-laris-twilight/
Minggu, 24 Oktober 2010

Ipung. Laki-laki yang sempat membuat aku jatuh cinta itu bernama Ipung. Satu-satunya laki-laki yang mengajakku menikah. Satu-satunya laki-laki yang mampu membuat aku merasa menjadi wanita terbaik di dunia. Tapi sekarang aku tidak tahu ada dimana dia.
“Ibuku mau menikah dengan Om Arya. Kata ibuku, Om Arya orangnya baik, jadi ibu memutuskan untuk menikah dengannya”. Suara itu membuatku terpelanting jauh kembali ke masa lalu. Tubuhku seperti menciut. Organ-organnya seperti terlempar oleh tendangan mesin waktu yang membawaku ke masa itu. Masa dimana seorang laki-laki cilik berusia sekitar enam tahunan berjalan pelan di sampingku. Aku berusaha mengimbangi langkah lelaki cilik itu. Dan kaki kecilku yang terbungkus sepatu lucu berwarna-warni, tampak sibuk mengikuti langkah kakinya.
“Xa, kamu temanku yang paling baik. Kamu selalu membela aku saat aku dihukum Bu guru. Aku tahu, aku ini anak yang bandel, tapi aku tidak tahu kenapa ada orang baik seperti kamu yang mau membela anak bandel seperti aku!”
Aku hanya tersenyum waktu itu. Senyumku memang masih terlihat imut untuk ukuran gadis berusia enam tahun. Ya, itu adalah senyumku sebagai anak SD yang tidak mengerti kenapa anak seusia Ipung tampak berpikiran dewasa. Entahlah! Yang aku tahu, ada sebuah kalimat pendeknya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan,
“Kamu mau nggak, nikah sama aku?”
Matanya entah menjatuhkan pandangan ke arah mana, yang jelas terlihat dari bibir lelaki cilik itu hanya gerakan-gerakan lucu yang membuatku tak bisa menahan senyum saat mengingatnya. “Kata Ibuku, dia menikah dengan Om Arya karena Om Arya adalah orang baik. Nah, kamu
Sekali lagi aku tersenyum. Dan aku hanya bisa diam, sampai akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraan.
Aku masih tak habis pikir, darimana dia menemukan kalimat-kalimat seperti itu? Jangan-jangan dia menirukan dialog dari salah satu scene film atau sinetron yang tidak terklasifikasi dengan baik. Aku tahu, bahkan hapal benar judul-judul sinetron dewasa dalam usiaku yang keenam. Hal itu tidak aneh, karena memang sinetron-sinetron dewasa banyak yang diputar tanpa memperhatikan waktu. Akhirnya anak-anaklah yang terkena dampaknya. Mereka dewasa sebelum waktunya. Dan aku adalah salah satu dari jutaan anak-anak yang merasa dewasa sebelum waktunya. Lalu aku menyebutnya Jatuh Cinta. Ya, aku jatuh cinta pada lelaki cilik itu, walaupun aku sendiri tidak pernah tahu, waktu itu, tentang arti cinta yang sering aku agung-agungkan. Aku hanya tahu, bahwa cinta adalah seperti apa yang diajarkan oleh sinetron. Hmp… Entahlah!
Satu bulan setelah itu, Ipung bersama Ibunya, diajak pindah ke
Hingga hari ini. Diantara bingkai jendela ini. Diantara suara kumbang pohon dan binatang malam lain yang membuat aku kembali ke masaku yang sesungguhnya. Ke masa dimana aku termangu diantara suara dengkuran Lyan. Hmp… enaknya bisa terlelap semudah itu.
Diambil dari Novel CATATAN DIANTARA KITAB CINTA by Saeful Nurdin @ 2004
Rabu, 01 September 2010
Definisi Kriya secara bahasa:
Kata “Kriya” berasal dari bahasa Sansekerta dalam kamus Wojowasito, dalam konteks kesenian Hindu yang diambil alih ke dalam bahasa Jawa Kuno. Artinya ‘pekerjaan atau perbuatan’(khususnya pekerjaan yang berkenaan dengan upacara keagamaan).
(sumber: Soedarso Sp dan Prof Edi Sedyawati, 1999)
Dalam istilah asing kriya dikenal dengan kata craft;
“Occupation, specially one which skill in the use of hands is needed-eg the craft of woodcraver” (Oxford English Reader’s Dictionary).
Bila dilihat secara istilah, sudah banyak para seniman dan pemikir yang mengartikan kriya,dari sedemikian banyak pengertian ada satu definisi yang cukup mudah dimengerti dan dicerna oleh masyarakat luas, definisi kriya yang diartikan oleh Prof.Sp.Gustami:
Menurut beliau, “…Seni kriya dalam bahasan ini ialah suatu karya seni yang unik dan karakteristik yang didalmnya mengandung muatan nilai-nilai yang mantap dan mendalam menyangkut nilai estetik, simbolik, filosofis dan fungsionalnya. Oleh karena di dalam perwujudannya didukung ‘crafmanship’ tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni ‘adiluhung’.”
Dari pernyataan Prof.Sp.Gustami dapat kita ambil beberapa poin penting terkait dengan istilah kriya, anatara lain: unik, berkarakter, estetik, simbolik, filosofis, funngsional, ‘crfatmanship’ dan adiluhung. Bagaimana kaitan sesungguhnya dari poin-poin tersebut?. Beberapa poin tersebut menjadi kata kunci penting untuk memahami kriya lebih dalam. Berikut penjelasannya;
Kriya memiliki nilai keunggulan, sehingga mengapa ‘kriya’ disebut sebagai ‘kriya’, keunggulan tersebut tercermin dari sebuah karya atau produk kriya. Nilai keunggulan pada karya kriya berdasar pada aspek (tolak ukur) yang atas kriteria tertentu dapat memenuhi nilai ideal terhadap aspek-aspek sebagai berikut:
Pertama, kriya berhubungan dengan unsur-unsur skill/trade/ooccupation yang bermuara pada perupaan (titik, garis bentuk, ruang, warna, tekstur gaya dan lain-lain). Unsur-unsur dasar tersebut merupakan unsur dasar yang membentuk sebuah rupa (dipelajari pada Nirmana 2D dan Nirmana3D). Seorang kriyawan hendaklah mengerti hal-hal terkecil sebagai penyusun sebuah karya besar.
Kedua, kriya berhubungan dengan unsur seni, keindahan atau estetika. Sebuah usaha untuk mengolah unsur-unsur rupa menjadi sesuatu yang dapat dinikmati serta mengandung unsur keindahan/estetis dengan menggunakan metoda-metoda tertentu dalam berkarya (usaha personal kriyawan)
Ketiga, kriya berhubungan dengan unsur-unsur material atau medium. Suatu istilah yang berhunungan dengan alat/corak/media ekspresi dan komunikasi akan upaya-upaya mengungkap gagasan rupa dan perenungan melalui potensi media bantu. Unsur material atau medium sebagai unsur eksternal, sebagai sesuatu yang diolah atau di eksplorasi. Media ekspresi dapat berupa kayu, batu, tekstil, serat, logam dan banyak lagi.
Keempat, kriya berhubungan dengan gagasan dan fungsi yang dekat dengan manusia dan lingkungan hidupnya. Suatu istilah yang berhubungan dengan unsur-unsur pemenuhan akan sebuah kebutuhan manusia baik dari sektor material, spiritual, ataupun keduanya yang memungkinkan manusia senantiasa berupaya mencapai tahap kesejahteraan tertentu.
Kelima, kriya berhubungan dengan teknologi. suatu istilah yang dikaitkan dengan kekaryaan atau proses dalam memproduksi sebuah karya, keterampilan penggunaan alat untuk tujuan-tujuan memenuhi semua unsur-unsur kriya yang ada diatas.
Kelima unsur tersebut menyatu, saling mendukung serta dapat berkembang membentuk sebuah karya seni ‘adiluhung’ yang tinggi dinamakan Kriya.
Keistimewaan dan keunikan sebuah karya kriya tidak hanya dibangun oleh kelima unsur tadi.Simak pernyataan dari Tallcot Parsons berikut:
“Kriya menyatu dengan manusia dan eksistensinya. Produk kriya merupakan artefak dari kurun budaya tertentu, bukti dari suatu tingkat peradaban. Oleh karena itu produk kriya adalah produk budaya, terjemahan fisik dari ide dan aktivitas budaya”
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa budaya telah menjadi unsur keenam yang tidak dapat dilepaskan dari istilah kriya. Kriya secara langsung memiliki nilai etnik dan budaya, sesuatu yang berhubungan dengan tradisi turun menurun. Unsur inilah yang menjadi keistimewaan kriya dengan bidang seni lainnya.
Dengan budaya unsur budaya dalam tubuh kriya, tidak langsung diartikan bahwa kriya itu kuno atau ketinggalan zaman. Walaupun begitu kriya tetap berjalan seiring dengan zaman, mengikuti perkembangan teknologi yang ada dengan tetap mempertahankan unsur budaya yang ada. Berikut penjelasan lebih lanjut dari Prof IP Gustami:
“Dengan demikian aktifitas penciptaan yang dilakukan para kriyawan masa kini tidak hanya sekedar meniru dan mengenang kejayaan seni-seni tradisional masa lampau, tetapi semua itu menjadi acuan untuk menemukan filosofi baru berkat kemampuan menangkap, menyarikan dan memberi bentuk gejala-gejala kehidupan modern yang berubah cepat ini”
Dari pernyataan di atas dapat dibuktikkan bahwa kriya akan terus berkembang bersama budaya seiring dengan perkembangan zaman.
Produk-produk kriya:
- Berupa benda atau artefak;
karya-karya tekstil: kain tenun; Songket (Sumatera Barat), Ulos (Sumatera Utara), dll
karya-karya keramik; kendi, guci, peralatan makan dll
karya-karya logam; perhiasan
karya-karya batu…dll
- berupa teknik;
tenun, rajut, sulam, merenda, tapestri, dan masih banyak lagi (banyak…banyak…banyaaaaak)
1. Kriya dalam konteks pelestarian budaya tradisional (konservasi budaya dan identitas lokal), berbasis pada kekayaan SDA dan budaya masyarakat. Konsep ini bermuara dari keprihatinan agar kriya Indonesia tetap hadir diperhitungkan dan bernilai di dalam masyarakat. Dengan mengembangkan identitas budaya, memelihara/merumuskan kembali indentitas nasional. contoh: diadakannya seminar dan workshop mengenai kebudayaan Indonesia, seminar pelestarian kebudayaan, workshop keterampilan rajut, tenun, tie dye, dan teknik kriya lainnya, mengadakan berbagai macam pameran kriya budaya (Tenun Adiwastra, pameran Inacfrat, dll)
2. Kriya dalam konteks pelestarian lingkungan (isu-isu eksploitasi eksesif terhadap bahan baku). Berhubungan dengan bahan baku produk kriya yang sebagian besar adalah bahan alam, maka segala aspek kegiatan yang meliputi proses pengadaan dan pengolahan bahan, perakitan, pengemasan, transportasi hingga perlakuan saat produk itu telah menjadi sampah (daur ulang), harus dijadikan optimasi landasan berkarya kriya. contoh: mempelajari pemanfaat serat-serat alam untuk dijadikan produk kriya/ poduk pakai.
3. Kriya dalam konteks pemberdayaan masyarakat, kegiatan kriya di lingkungan/daerah yang berhasil memobilisasi masyarakat ke arah perbaikan kualitas hidup, peningkatan ekonomi, pengetahuan dan keterampilannya. Aspek pendekatan sosial merupakan kunci keberhasilan kegiatan, menghasilkan produk kriya itu sendiri merupakan sebuah alat dalam usaha pemberdayaan masyarakat.
4. Kriya dalam konteks kerativitas, didasari atas kegiatan eksperimentasi dan eksplorasi terhadap keunggulan dan keunikan material untuk dikembangkan menjadi produk kriya yang memiliki originalitas dan nilai fungsi yang baru. salah satu ciri yang kuat dari pendekatan ini adalah terlihatnya keberanian dan kepekaan yang kuat dalam mengolah material. Pendekatan ini dibarengi pleh keterampilan dan keraifan yang tinggi dalam memperlakukan material. Hasil eksperimentasi kreativitas ini dapat memberikan nilai tambah yang tinggi terhadap suatu material/medium.
Jumat, 13 Agustus 2010
Kisah Nabi Musa: Terbelahnya Laut Merah
Desember 1, 2005 oleh agusset
Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan (QS 2:50). Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, Karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu Telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS 10:90). Dan Sesungguhnya Telah kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)” (QS 20:77). Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka (QS 20:78). Lalu kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar (QS 26:63).
Anda mungkin masih ingat dengan kisah Nabi Musa yang bersama kaumnya diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Mesir. Ketika telah sampai di tepi Laut Merah, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya hingga laut luas yang berada di hadapan mereka terbelah membentuk jalan dengan dua dinding air yang tinggi. Pernahkah anda membayangkan betapa dahsyatnya kejadian tersebut?
Menurut sejarah, peristiwa itu terjadi sekitar 3500 tahun yang lalu. Ada beberapa pakar yang telah mencoba untuk meneliti kembali peristiwa ini berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada dan menerbitkannya dalam bentuk buku dan DVD (seperti yang dapat anda lihat di sini).
Baiklah, sekarang mari kita coba untuk melihat lebih jauh ke lokasi tempat Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberang menurut para ahli tersebut. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuwaybi. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan, kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuwaybi ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuwaybi ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat. Jarak antara Nuwaybi ke Arab sekitar 1800 meter (menurut peta dari MSN Encarta bahkan sekitar 10 km). Lebar lintasan dimana laut terbelah diperkirakan 900 meter.
Dapatkah anda membayangkan berapa gaya yang diperlukan untuk dapat menyibakkan air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata-rata mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam).
Menurut sebuah perhitungan diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Atau jika kita kaitkan dengan kecepatan angin, maka akan melebihi kecepatan angin pada saat terjadi Hurikan. Atau jika mengacu kepada perhitungan seorang pakar dari Rusia yang bernama Volzinger, diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam. Sungguh dahsyat bukan? Allah Maha Besar.
